Pages

Rabu, 24 Agustus 2016

Jeruk Makan Jeruk

Putra sulung saya memiliki suara nyaring. Jika sedang bermain dengan teman sebayanya, suara tawanya  terdengar paling keras. Begitu pula ketika asik bermain sendiri,  berimajinasi tentang mobil, dengan suara nyaringnya yang cemruwet ia akan menirukan suara-suara mobil berjalan atau mobil mengerem. Riuh rendah, sesekali ditingkahi suara ocehan dan tawa adiknya. Sungguh suasana riang yang senantiasa membuat betah tinggal di rumah.


Namun terkadang, suara nyaringnya menjelma menjadi teriakan tak bermakna, atau teriakan marah minta perhatian. Jika kondisi saya sedang fit, saya bisa menanggapinya dengan kalem. Namun, satu dua kali kondisi emosi saya juga kurang baik. Atau saya sedang melayani adiknya menyusu yang tak bisa ditawar nanti-nanti. Di saat seperti itu saya akui saya bertingkah sama konyolnya dengan kakak.


"Kakak! Ndak usah teriak!! Umi sudah dengar!!! Umi hanya minta Kakak menunggu, nanti Umi datang!!!!"


Nah, lucu kan?! Saya berteriak meminta balita saya berhenti berteriak. Tentunya balitadengan logikanya yang belum matangmenangkap bahwa saya memberinya contoh untuk berteriak saat menginginkan sesuatu, alih-alih mendekat dan menyampaikan maksudnya secara sopan.
Di sinilah pentingnya introspeksi sebagai orang tua.

Jumat, 05 Agustus 2016




Mudik selalu menjadi momen yang saya nanti setiap tahun. Karena hanya di momen itulah saya bisa bertemu Bapak dan Emak dalam waktu lama.

Di sisi lain, mudik adalah saat untuk rekreasi di pantai. Pantai di kampung saya cukup banyak. Masih alami, dan belum terjamah khalayak umum. Jarak tempuhnya juga dekat, dua puluh menit jalan kaki. Medan yang dilalui masih alami. Jalan setapak berupa batuan gunung, dikelilingi ladang dan tanaman liar. Benar-benar membuai mata dan hati. Hmm... so lovely.

Sayangnya, mudik kali ini pantai surut di waktu petang. Tentu saja tidak nyaman berjalan kaki di medan terjal, dengan mengajak dua balita. Dan tentu saja objek pemandangan sangat minim. Karena itulah, kami memilih mengunjungi pantai Sadeng. Pantai yang difungsikan sebagai pelabuhan di kampung saya. Meski keindahannya jauh berkurang dibanding dulu ketika masih alami, Pantai Sadeng tetap menarik pengunjung dari berbagai daerah. Terutama bagi penggemar seafood, aneka binatang laut tersedia di TPI (Tempat Pelelangan Ikan), dan tentunya masih segar karena baru diangkat dari laut oleh nelayan setempat.





Dan ternyata, abi memiliki kenangan di pantai ini. Usut punya usut, semasa bujang dulu abi pernah berkunjung ke pantai ini. Duduk di ujung dermaga sambil merenung dan memanjatkan doa, 'Ya Alláh, pilihkanlah jodohku wanita shalihah dari kampung dimana panrai ini berada.'

Dan MaasyaaAllah... doa pemuda galau sepertinya makbul, hehe. Meski saya tak pernah bertemu abi sekalipun, ternyata Allah Memilihkan beliau menjadi pendamping hidup beliau saat ini. Alhamdulilláh...

Dan bagi putra kami, tempat ini tentunya menyediakan wahana belajar baru: laut, pasir putih, ombak, dan perahu tentunya. Semoga kami seluruh pengunjung mampu menjaga kebaikan dan kearifan di tempat ini. Sehingga terjaga keindahannya dan orang lainpun bisa turut merasakan kenyamanan sebagaimana yang kami rasakan. Aamiin

Kamis, 16 April 2015

Ayah, Ibu dan Anak-anak

Keluarga. Seringkali disebut sebagai miniatur masyarakat-lingkungan sosial- di mana keluarga itu berada. Ia memiliki anggota, dan aturan-aturan yang dikenakan pada anggotanya. Aturan yang ada bisa jadi merupakan sebuah norma yang umum dilazimi masyarakat. Bisa pula berupa aturan yang ditetapkan kepala keluarga. Atau sebentuk kesepakatan yang dibuat dan diamini seluruh anggota keluarga.
Apalagi bagi keluarga muslim, tentunya ada nilai-nilai ideologis yang dijabarkan dalam tujuan, visi dan misi keluarga. Agar keluarga yang dicinta tak hanya bersua sementara di dunia, namun berlanjut hingga menjadi keluarga yang utuh di jannah-Nya.

Teringat satu pernyataan pada seminar parenting "Pendidikan Seks untuk Anak", 29 Maret lalu. Ibu Farida Nuraini selaku narasumber menuturkan kurang lebih begini "Suami Anda sekarang, adalah bentuk didikan orangtuanya dan pengaruh lingkungannya. Karena itu jangan semata mempermasalahkan kekurangan-kekurangannya... Ibu yang tidak tahu cara menjaga bicaranya, dan Ayah yang tidak tahu cara menjadi pemimpin keluarga..."

Saya hanya mampu mengingat potongan-potongan karena benak saya seketika melayang pada figur sebuah keluarga yang entah bagaimana cocok dengan apa yang disebutkan Bu Ida. Perihal yang saya kenang tentang keluarga itu adalah tentang anak-anaknya.

Secara lahir, dalam lingkup sosial, keluarga tersebut adalah keluarga yang banyak jasanya bagi sekitar.
Namun terasa sekali bedanya, jika yang dibicarakan adalah masalah akhlaq dan adab. Anak pertama dan kedua yang sudah berkeluarga, memang lebih 'mapan'. Lebih tahu batasan bagaimana bersikap& menjaga adab. Meski ketika di rumah, atribut adab itu bisa seketika lepas, terutama tampak pada bagaimana mereka berkata-kata sesama saudara, atau bahkan pada orangtua. Namun putra bungsu yang masih 'tercelup' aroma pergaulan masa kini, sungguh kurang sekali adabnya, di dalam maupun luar rumah.
Sangat disayangkan, mengingat semua itu secara sadar atau tidak terjadi akibat kurang bisanya orangtua berperan sebagai orangtua yang Islami.

Ya, orangtua Islami. Dalam Islam, bagaimana orangtua berkata-kata diatur dalam surah An-Nisa ayat 9 (silakan dibuka sendiri nggih, hehe).
Bayangkan jika orangtua, terutama Ibu sering berbicara buruk tentang anaknya. Sedangkan perkataan Ibu seringkali menjadi do'a yang munglin diaminkan malaikat. Miris bukan, jika bagaimana akhlaq anak kita sekarang adalah akibat perkataan kita yang kurang pas dalam mensifati anak-anak kita. "Kamu itu anak bodoh... kamu itu pemalas... kamu tidak punya sopan santun layaknya gelandangan...". Na'udzubillaahi min dzaalik. Wahai ibu, mari membenahi kembali aktivitas lisan kita...
Lalu peran ayah, yang secara khusus dituntut untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dengan apakah keluarga dijaga dari neraka jika bukan dengan dienul haq? Lalu bagaimana jika seorang ayah abai akan syariat, dan lepas tangan dari pendidikan anak-anaknya? Sungguh, jika Alláh tidak menolong keluarga itu tentulah mereka menjadi keluarga yang hina dunia akhirat. Alláhummaghfirlanaa...

Masih ada waktu, untuk berbenah menjadi orangtua yang Islami dalam membangun keluarga dunia menuju surga. Aamiin


Jumat, 14 November 2014

SYI'AH DI MATA KITA, SYI'AH DI HATI MEREKA

Pagi ini, kami kedatangan tamu. Salah seorang murid silat suami, seorang mahasiswa semester 5 Fakultas Teknik PTN favorit di Solo.
Saya bingung hendak memulai darimana, hati saya telanjur berkabut dan mendung...
Ia adalah seorang remaja masjid aktif di kampungnya. Di perguruan silat pun ia adalah sosok yang loyal dan royal, mau diajak bekerja keras bahkan berkorban. Keluarganya adalah keluarga yang ditokohkan di kampung. Karena itu, keluarganya pun dekat atau mungkin didekati oleh tokoh-tokoh lain, termasuk pemuka agama. Tak ketinggalan, tokoh agama Syi'ah pun memanfaatkan peluang.
Salah seorang tokoh Syi'ah di kampung tersebut adalah seorang ustadz yang rutin mengisi kajian kitab Sabtu sore di masjid setempat. Kitab yang dibahas adalah Bulughul Maram dan Riyadhus Shalihin.
Sebagai keluarga yang ditokohkan, tentu keluarga ikhwan yang saya maksud tadi pun turut dalam kajian bahkan menjadi penggerak agar kajian semarak.
Awalnya, kami hanya membiarkan semuanya mengalir. Tak ada praduga diajukan, tak ada prasangka yang diutarakan.
Namun, 'hari itu' akhirnya datang. Pagi ini. Obrolan ringan kami akhirnya mengerucut pada aktifitas kajian yang ia ikuti.

"Saya bukan orang Gumuk, Mas. Walaupun saya mengikuti kajian yang diampu ustadz dari sana," tegasnya.
"Saya tahu bagaimana aqidah Syi'ah, dan insyaaAllah selama kajian tidak ada hal-hal yang 'seperti itu'."

"Yang namanya kajian itu punya tingkatan Mas," tutur kami, "semuanya disesuaikan kebutuhan penuntut ilmu. Di manapun tempatnya pasti seperti itu. Tapi suatu saat, akan ada proses penyaringan. Orang yang terlihat loyal akan dinaikkan 'tingkat'nya, akan disampaikan materi-materi yang lebih khusus. Jika Antum sudah terbiasa dengan ritme mereka sejak awal, bukan tidak mungkin jika suatu saat Antum akan mengikuti jejak mereka tanpa sadar..."
"Saya hanya ingin ber-husnudhan. Ustadz-ustadz mereka, yang saya kenal, tidak pernah mengajarkan hal yang menyimpang. Mereka memang mengajak saya mengikuti kajian, tapi sifatnya longgar. Saya juga tidak dilarang mengikuti kajian di tempat lain, bersama ustadz lain..." tandas si ikhwan, yang membuat saya istighfar berulang-ulang.
'Bagaimana kita bisa menjaga husnudzan, jika ustadz kabiir saja ber-'su'udhan' pada mereka? Memangnya siapalah kita ini??'

Saya hanya merasa bahwa orang-orang Syi'ah berada selangkah di depan. Bagaimana mereka berhasil mengikat hati para pemuda yang mengikuti kajian mereka, hingga para pemuda tadi merasa enggan meninggalkan majelis bersama mereka??

Sabtu, 08 November 2014

BRUMBUN

Keberadaannya yang tersembunyi membawa daya tarik tersendiri. Lokasinya dekat dengan rumah, setidaknya dapat dicapai dalam 20 menit jalan kaki. Melewati rumah-rumah penduduk yang tidak seberapa banyak pada 5 menit pertama. Setelahnya, ladang bertanah cokelat retak akan menyambut di kiri-kanan jalan. Iklim di sana panas, namun selalu berangin. Jadi tak masalah jika berangkat siang hari demi mengejar panorama yang lain dari biasanya.

Lima menit setelahnya, menapaki sepetak sempit jalan buatan tempat lalu-lalang petani lokal. Lalu membelah ladang di mana pohon kelapa pinang berbaris di sisi kiri. Jika beruntung, akan ada beberapa ekor tupai yang tertangkap netra, bergelayut di sela buah kelapa berkulit hijau yang menggoda. Bahkan jika bertemu pemilik ladang, pasti diijinkan untuk memetik satu-dua butir kelapa untuk bekal setibanya di tujuan. Gratis!

Lima menit berikutnya adalah menit penuh tantangan. Jalan yang tadinya mulus lempang dan lapang, kini menciut. Diapit terjal batu gunung di kiri, dan tegal yang menjorok ke bawah bagai jurang dangkal di kanan. Jangan abaikan juga batu cadas runcing yang harus ditapaki. Tak perlu memperlambat langkah. Cukup tingkatkan kewaspadaan. Dan pastikan untuk benar-benar berhenti jika ingin memandang berkeliling. Karena jika mengumbar pandang sambil tetap berjalan di lokasi ini, bisa jadi kaki-kaki akan menapak di retakan batuan yang bisa menggelincirkan. Dan rasanya pasti menyakitkan!
Sejujurnya, ada banyak hal indah di lokasi ini. Bunga-bunga liar, suara kumbang, derik ranting bergesekan, kicau burung bersahutan, batu-batu gunung yang berukiran rumit akibat ulah panas dan hujan, dan lainnya. Namun, tak apalah melewatkan nuansa itu sejenak. Demi mengendus aroma amis di depan sana, dan warna biru yang berbeda dengan biru langit berbatas horison yang mulai tampak di celah gunung. Segera percepat langkah, maka tibalah di hamparan ladang paling tepi. Ada gubuk mungil beratap jerami di sana, sekedar untuk menghela napas atau minum barang seteguk.

Sudahkah usai perjalanan? Tentu belum! Ada celah sempit di antara rimbunnya tanaman pandan duri raksasa, jalannya menurun dan berlapis pasir sehingga menjadikannya licin. Berhati-hatilah, jangan sampai berpegangan pada daun pandan yang berduri itu!

Setelah rimbun pandan tersibak, masih ada sedikit tantangan. Bongkah-bongkah batu putih raksasa, yang harus dilompati sekian langkah demi mencapai ia yang dicari.

Aroma amis segar, debur riang namun ganas di tepian, juga karang menjulang di mana walet bersarang. Dialah pantai Brumbun. Pantai mungil, garis pantainya tak lebih sepanjang satu kilometer. Pasir putihnya landai, ada ceruk gua dangkal pada dinding gunung yang membatasi, ada pula kolam-kolam berbatas batu karang yang menampakkan ikan-ikan kecil berlarian di dalamnya. Atau sehamparan ganggang cokelat pipih yang melambai oleh sapuan ombak. Atau sebaris landak laut yang mencengkeram dasar karang, dan bintang mengular yang menyembulkan juntai kaki berdurinya di permukaan pasir. Semuanya bisa ditemukan ketika laut surut di kala fajar atau senja hari pada beberapa waktu sebelum hingga sesudah bulan purnama.

Berangkat kala fajar tentu menyulitkan, karena itulah berangkat siang menjadi pilihan. Kerjakan dahulu shalat Ashar sebelum memutuskan untuk bermain air, berenang, mencari rumah kerang, atau sekedar duduk menikmati air kelapa muda di ceruk gua sambil mengambil beberapa jepretan gambar.

Setelah hari meredup, matahari mulai tergelincir di celah pepohonan, segeralah berkemas pulang. Boleh, membawa setangkup pasir, sestoples binatang laut, atau seplastik ganggang. Namun jangan tinggalkan sampah, bungkus makanan, botol bekas minuman di sana. Dia telah memanja hatimu dengan keindahan dan kedamaian. Karena itu berterimakasihlah dengan menjaga kebersihannya. Dan jangan membayangkan bagaimana perjalanan pulang karena itu akan membuat enggan, ^^.

Datanglah lagi lain waktu, semoga ia senantiasa terjaga, seindah potret yang kau simpan di memori ponselmu.

Pantai Brumbun, Gunungkidul
Jogjakarta
 
Design Downloaded From Free Wordpress Themes | Free Website Templates | News and Observers